Kamis, 09 Januari 2014

Request Sahabat

Semenjak saya menginjakkan kaki di tanah Korea, proses saya berkenalan dengan teman-teman sesama pelajar Indonesia sangat tidak terduga. Beberapa teman memang sudah saya kenal sejak sebelum saya sampai di Korea, seperti teman-teman sejurusan di ITB, teman-teman satu SMA, dan teman-teman yang memang saya kenal juga saat saya kuliah. Teman-teman baru yang saya kenal di Korea bisa karena satu kampus (Konkuk University), satu tempat les bahasa, satu pergaulan, atau satu organisasi (PERPIKA, Persatuan Pelajar Indonesia di Korea). Satu tahun pertama di Korea saya memutuskan untuk tidak terlalu aktif di luar akademik, jadi saya tidak mendaftar untuk bergabung sebagai pengurus PERPIKA. Menginjak tahun kedua saya mulai gatal ingin berorganisasi. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut berpartisipasi di kabinet PERPIKA 1213. Khususnya di kementrian PSDA (Pengembangan Sumber Daya Anggota). Di kementrian PSDA, saya tidak hanya bertemu dengan orang-orang yang berbeda, tetapi juga bertemu dengan beragam sifat dan cerita.

Ki-Ka: Mirah, Yonny, Fidel, Wahyono, mas Iput nyelip di pohon. (Photo by: Bangun IRH)
Saya akan membuat testimonial tentang bapak Bos terlebih dahulu. 
Salah satu teman yang saya kenal melalui PERPIKA adalah bos saya di kementrian PSDA, Yonny Septian. Saya pertama kali tahu Yonny dari blog yang di-share oleh seorang teman lain di Facebook. Kemudian saya lebih mengenal Yonny setelah saya menjadi staff-nya di PERPIKA 1213. Pertama kali berinteraksi dengan Yonny tentunya saat rapat pertama kementrian PSDA lewat Skype. Kesan pertama, Yonny bisa memimpin rapat tapi sulit mengendalikan rapat. Kementrian PSDA PERPIKA 1213 itu isinya orang-orang yang sangat kuat mempertahankan pendapat masing-masing, termasuk saya, di sinilah kelemahan Yonny. Dia sulit membendung dan mengendalikan adu argumen antar staff PSDA. Tapi itulah serunya rapat PSDA yang selalu bikin kangen. 
Kelebihan lain dari bapak Bos adalah tegas tapi fleksibel. Yonny tegas dalam menentukan suatu deadline, tapi ketika di akhir deadline ternyata target yang dibuat belum tercapai, dia bisa fleksibel. Sikap fleksibelnya juga terlihat di saat rapat PSDA. Di antara kementrian-kementrian PERPIKA 1213, cuma kementrian PSDA yang punya sesi curhat di akhir rapat. Ironisnya, sesi curhat ini yang justru selalu dinanti-nanti oleh semua staff PSDA. 
Di suatu sesi curhat setelah rapat, tiba-tiba Yonny mencetuskan keinginan untuk menikah di tanggal 11-12-13. Semua staff PSDA pun senang sekaligus kaget, karena saat itu Yonny masih jomblo, hahaha. Dia meminta bantuan kepada semua staff PSDA untuk mencari calon pendamping. Ada tujuh syarat yang dibuat oleh Yonny tapi saya lupa, salah satu syaratnya adalah perempuan. It's an obvious but one of the most important requirements, hahaha. Berawal dari rencana inilah pencarian Yonny akan calon pendamping hidup dimulai. Sayangnya kami para staff PSDA tidak bisa memberikan calon yang cocok. Alhamdulillah-nya, senior Yonny berbaik hati mau mengenalkan pada calon pendamping yang ternyata cocok. Dimulailah perjalanan Yonny menuju realisasi rencana 11-12-13. Para staff PSDA pun menyambut gembira berita positif ini. Walaupun awalnya Yonny masih malu-malu untuk bercerita, hahaha. 
Saya tidak tahu dengan jelas bagaimana proses Yonny membangun hubungan dengan calon pendamping hidupnya. Tapi yang pasti sebuah hubungan memerlukan interaksi antara dua orang yang memiliki tujuan yang sama. Tidak perlu memiliki kesukaan yang sama atau sifat yang benar-benar sama untuk membangun hubungan yang harmonis. Tapi dengan dipenuhi pengertian, toleransi, dan kedewasaan kedua pihak yang terlibat dalam suatu hubungan, maka keharmonisan akan tetap terjaga. 
Ah, sebenarnya saya bukan orang yang cukup tepat untuk memberi pandangan tentang hubungan atau relationship antara dua insan manusia. Karena saya pun masih dalam tahap belajar. Belajar membangun hubungan yang sehat, belajar memelihara keharmonisan, dan tentunya belajar untuk menyiapkan diri menuju jenjang yang lebih serius. 

ps: sampai sini, tulisan ini adalah jawaban dari request Yonny. Semoga semuanya lancar ya.. :D

Mari kita lanjutkan cerita tentang teman-teman di kementrian PSDA yang lain.
Selanjutnya ada Fidel, perempuan cukup cerewet dari Medan yang sedang berjuang di Pohang. Fidel ini unik. Di satu sisi dia bisa berdandan sangat tomboy, tapi di sisi lain ternyata dia sangat girly. Terbukti dari postingan foto-foto selfie dia di Facebook, hahaha. Perkenalan pertama saya dengan Fidel adalah saat rapat perdana kementrian PSDA. Kesan pertama saya, Fidel ini orangnya sangat bersemangat dan ngotot. Biasanya rapat PSDA akan sangat alot dan panjang kalau Fidel dan "lawan" debatnya gak mau saling mengalah. Tapi pada akhirnya rapat PSDA tetap bisa berjalan lancar karena pak Bos bisa melerai. Selain itu, Fidel termasuk orang yang sangat supel. Dia mudah bergaul dan membuka percakapan dengan orang yang baru dikenal.
Di saat sesi curhat, Fidel pasti akan bercerita tentang "Oppa"nya. Menarik loh ceritanya, tidak jarang dia dipusingkan dengan sikap si "Oppa" yang naik-turun. Ah, memang orang Korea sulit dimengerti, sabar ya Fidel. *pukpuk

Nah, siapakah "lawan" debat nona Fidel?
Dia adalah Wahyono yang selalu mengaku-ngaku bahwa dirinya ganteng. Nickname Wahyono adalah Wahgan, yang menurut dia merupakan kependekan dari Wahyono Ganteng. Kalau ada yang mau protes tentang nickname Wahyono, silahkan langsung protes ke yang punya nama, hehehe. Wahyono ini kurang lebih mirip Fidel dari sisi berpendapat. Oleh karena itu, Fidel dan Wahyono sulit mencapai kesepakatan kalau punya pendapat yang berseberangan. Dua-duanya sama-sama ngotot dan gak mau mengalah.
Wahyono ini termasuk salah satu staff PSDA yang gak banyak berbicara di sesi curhat. Biasanya dia bagian merusuhi curhat staff-staff lain. Tidak jarang dia memberi usul yang unik, salah satunya syarat calon pendamping Yonny.

Hmm... Kalau dilihat dari foto di atas, total kementrian PSDA ada 4 orang, tapi sebenarnya kami ada 5 orang. Siapakah orang terakhir yang tidak ada di foto?
Nah, yang paling kanan itu adalah mas Iput. (Photo by Fidel)
Orang terakhir adalah orang paling diam di kementrian PSDA, mas Iput. Dia adalah anggota kementrian PSDA paling senior. Mas Iput ini orangnya sangat serius, bahkan ketika bercanda pun dia sangat serius. Oleh karena itu, teman-temannya bilang kalau mas Iput ini bercandaannya garing. Tidak jarang malah mas Iput jadi bahan bercandaan teman-teman yang lain (bukan staff PSDA). Saat rapat PSDA, mas Iput ini orang yang paling sulit dicari. Dia selalu sibuk di lab-nya selama 24 jam sehari 7 hari seminggu. Di sesi curhat, mas Iput menjadi staff paling jarang ikut berkomentar. Saya juga kurang tahu alasan mas Iput jarang ikut berkomentar di sesi curhat. Mungkin bisa ditanyakan langsung kepada orangnya, hehehe.

Kami berlima berkenalan karena kami tergabung dalam kementrian PSDA PERPIKA 1213. Selama satu tahun kami saling berbagi cerita, berbagi pekerjaan. Sekarang kami sudah jarang berinteraksi (kecuali Fidel sama Wahyono kayaknya, hahaha). Tapi persahabatan kami tetap di hati. 

Selasa, 07 Januari 2014

We Are in A Teddy Land...!!! ^^

Do you love Teddy bear?
Isn't it cute?
What if you found a giant Teddy bear? 
It should be very exciting...!!! 

Me and giant couple Teddy bear
Tahun lalu akhirnya saya bisa mampir dan masuk ke dalam museum Teddy Bear dalam rangka menemani saudara yang datang ke Seoul untuk ikutan workshop plus jalan-jalan. Orang-orang Korea ini memang paling bisa memanfaatkan space atau lahan yang kecil jadi menarik dan memuaskan pengunjung. Seriously, Teddy Bear Museum yang ada di bawah Namsan Tower ini ga luas, tapi pengunjung bisa menikmati museum dengan puas. 
Teddy bear museum menampilkan berbagai macam Teddy bear dengan tema yang berbeda-beda. Alur cerita galeri Teddy bear dimulai dari sejak zaman dinasti Joseon hingga zaman modern, atau Seoul saat ini. Di bagian awal, pengunjung dapat menyimak sejarah Seoul yang diceritakan oleh Teddy bear tua. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Korea dan bahasa Inggris.
Teddy penjaga pintu istana... Cute, isn't it? ^^
Teddy bear aja gotong royong, masa kita ngga? :D
Galeri Seoul di masa lalu diawali dengan display Teddy bear yang mengenakan kostum kerajaan zaman dinasti Joseon. Pada saat itu, wilayah Seoul menjadi pusat kerajaan. Tidak hanya menyoroti kondisi bangunan tradisional di masa itu, galeri Teddy bear juga memperlihatkan semangat kerja gotong royong yang ternyata dijunjung tinggi pada masa dinasti Joseon. Hal ini terlihat dari display Teddy bear yang sedang bahu-membahu membuat rumah tradisional. 
Upacara pernikahan yang meriah.
Mempelai yang berbahagia. ^^
Kemudian galeri berlanjut menceritakan budaya tradisional Korea. Salah satu kebudayaan yang ditampilkan adalah upacara pernikahan tradisional Korea di masa dinasti Joseon. Display Teddy bear memperlihatkan kemeriahan perta pernikahan di masa itu. 


Setelah galeri Seoul di masa dinasti Joseon usai, display Teddy bear memperlihatkan suasana kota Seoul yang mulai memasuki masa modern. Seoul digambarkan memiliki tram dan warga Seoul memakai pakaian khas orang Barat di masa itu.
Mulai modern.
Pusat kota Seoul.

Galeri Teddy bear terus berlanjut menuju kondisi Seoul saat ini. Kota Seoul digambarkan sangat meriah dengan berbagai keceriaan di dalamnya. Prosesi pernikahan juga mulai bergeser menjadi prosesi pernikahan modern ala negara Barat. 
Prosesi pernikahan modern.
Nah, sekian tentang Teddy Bear Museum di Seoul N Tower. Pengunjung bisa memilih hanya memasuki museum, hanya naik ke observatorium, atau kedua-duanya. Tiket dapat dibeli di loket yang berada di luar N Seoul Tower. Selamat menikmati...!!! ^^


Kamis, 25 April 2013

HanGang From The Cruise Ship

Apa yang ada di benak teman-teman ketika mendengar kata "cruise"?
Pasti langsung terbayang sebuah kapal besar dengan interior super mewah dan harga tiket yang selangit.
File:MSMajestyOfTheSeasEdit1.JPG
Kira-kira gini kali ya cruise yang kebayang...
(sumber gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/File:MSMajestyOfTheSeasEdit1.JPG)
Naaahhh... Saya juga pernah loh naik cruise ship di Seoul, menyusuri sungai Han (HanGang). Walaupun kapalnya gak semewah gambar sebelumnya, naik cruise ship merupakan perngalaman pertama saya. Apalagi menyusuri HanGang yang biasa saya susuri tepinya saja. 
Kapal yang dinaiki untuk menyusuri HanGang
Program HanGang Cruise ini merupakan salah satu program pariwisata yang menarik di Seoul. Kita bisa memilih dari pelabuhan mana kita ingin memulai perjalanan. Saat itu saya naik dari Ttukseom, pelabuhan paling dekat dari kampus saya. Jalur yang dilalui adalah Ttukseom-Banpo Bridge-Ttukseom. Lama perjalanan HanGang Cruise sekitar 1,5 jam atau 90 menit. 
Pemandangan tepi HanGang di sore hari dari tengah HanGang.
Selain bisa memilih pelabuhan, kita juga bisa memilih jenis tiket. Ada empat jenis tiket yang bisa kita pilih:
  • Tiket Regular
  • Tiket dengan Pertunjukan Sulap
  • Tiket dengan Live Concert
  • Tiket plus Buffet Dinner
Waktu itu saya dan sepupu plus keponakan-keponakan sedikit terlambat sampai di pelabuhan. Akhirnya secara ga sengaja kami malah beli tiket yang ada live concert di kapalnya. Menarik loh, :D
Live concert di atas kapal HanGang Cruise
Crise ship lain lewat di depan rainbow fountain
Hal menarik lain yang bisa kita nikmati dari atas HanGang Cruise adalah pemandangan air mancur pelagi (rainbow fountain) di jembatan Banpo dari tengah HanGang. Ini pemandangan super wow buat saya. Karena saya benar-benar penasaran sama pemandangan rainbow fountain ini. Sebelum naik HanGang Cruise saya pernah berkali-kali datang ke Banpo untuk melihat air mancur tersebut tapi selalu gagal. 

Ini loh rainbow fountain yang terkenal di banpo Bridge...

Buat saya, mencoba naik HanGang Cruise itu harus buat teman-teman yang tinggal di Seoul atau kota lain di Korea Selatan. :D

POSE...!!! ^^

Selasa, 16 April 2013

Catatan Kacung Kampret? Huh?

Eh, kacung kampret? Apaan tuh?
Jenis makanan baru?
Atau jenis binatang baru?
Ataaauuu...

Hmm, pasti banyak yang bertanya-tanya, apa sih kacung kampret itu? Ko bisa muncul istilah itu?
Saya sendiri baru tau istilah kacung kampret ketika saya mulai aktif di keorganisasian kampus. Di organisasi kampus, istilah kacung kampret itu dipakai untuk orang yang selalu ada dimanapun dan kapanpun dia dibutuhkan dalam suatu kegiatan. Jobdesc (job description = deskripsi pekerjaan) kacung kampret biasanya tidak pasti dan tidak ada batasan.
Saya jadi ketua panitia tapi tetep jadi kacung kampret... -___-"
Terus apa hubungannya sama kehidupan saya di Seoul?
Tahun pertama menginjakkan kaki di Seoul saya mencoba fokus pada kuliah dan riset di kampus. Tapi yang terjadi adalah saya merasa sangat bosan. Akhirnya saya mencoba aktif di kegiatan organisasi pelajar Indonesia di Korea Selatan. 
Bahkan setelah wisudapun saya mau2nya tetep jadi kacung kampret, hahaha...
Emang dasar saya jiwa kacung kampret alias pembantu umum, hampir tiap ada kegiatan organisasi di sekitar Seoul, saya ada di sana buat membantu keberlangsungan acara. Saya sih seneng-seneng aja bisa bantu teman-teman menyukseskan acara. Tapi yang bikin kesal itu kalau acaranya mendadak dan tanpa persiapan yang detail. Kalau sudah begini, kacung kampretlah yang bakal paling capek. Gara-gara itu, saya akhirnya ngetwit beberapa posting tentang #CatatanKacungKampret. Agak ngaco sih, tapi gapapalah, hiburan, hahahaha...
Beberapa tweet saya tentang #CatatanKacungKampret




Selasa, 02 April 2013

Runtuhnya Kesombongan Perantau


Hidup terpisah jauh dari orang tua bukanlah hal yang baru bagi saya. Sejak lulus dari SD di umur 11 tahun, saya sudah tinggal di luar rumah karena masuk pesantren. Walaupun masih di kota yang sama, saya tidak bisa pulang ke rumah setiap minggu. Karena ada jadwal libur terpisah antara santri perempuan dan laki-laki.
Setelah lulus SMP pun saya masih tinggal di luar rumah. Kali ini jarak antara rumah dan sekolah saya lebih jauh dari sebelumnya, beda kota, beda propinsi. Walaupun beda kota, saya tetap hidup layak dan terjamin karena SMA saya adalah sekolah berasrama. Menjelang lulus SMA saya bertekad untuk melanjutkan kuliah di bandung. Kebetulan saat itu orang tua juga pindah rumah ke Bandung.
Alhamdulillah saya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Senangnya bukan main, karena saya bisa berkumpul kembali bersama orang tua dan adik-adik. Tapi apa daya, rumah orang tua di Bandung tidak sebesar rumah sebelumnya yang terletak di Garut. Kondisi itu membuat saya tidak mendapat kamar. Akhirnya saya masih harus hidup terpisah dari orang tua karena selama kuliah di Bandung saya menumpang di rumah saudara (kakak tertua ibu saya).
And the story is not finish yet...
Petualangan saya masih belum berakhir, setelah lulus kuliah saya mendapatkan beasiswa ke Korea Selatan di umur 23 tahun. Lagi-lagi harus tinggal terpisah dari orang tua. Walaupun pertama kalinya akan menjalani hidup sendiri di luar negeri, saya merasa akan bisa bertahan. Berbekal pengalaman hidup terpisah dari orang tua selama 12 tahun. Maka berangkatlah saya dengan penuh keyakinan dan sedikit kesombongan.

Ibu, Uwa-uwa, Nenek, Adik-adik, dan Keponakan-keponakan.
Dua semester awal Alhamdulillah saya lalui dengan padat lancar (ibarat kodisi lalu lintas kira-kira seperti itu kondisinya, hehehe…). Tapi di semester tiga kesombongan saya runtuh. Semua pengalaman selama berbelas-belas tahun tinggal di luar rumah tidak ada artinya. Untuk pertama kalinya saya menelpon orang tua sambil menangis. Saya minta pulang, saya ingin menyerah, saya merasa benar-benar tidak sanggup lagi melanjutkan kehidupan di Korea.

Ibu, Ibu, Ibu...
Saat itu orang tua saya panik, mereka ingin mencoba membantu tapi tidak bisa berbuat apapun selain memberi saya semangat dan motivasi untuk tetap melanjutkan kuliah di sini. Beberapa hari setelah itu ibu saya terus mengirimi pesan berisi do’a-do’a melalui facebook. Ayah saya juga mengirimi sms berisi do’a-do’a dan kata-kata penyemangat. Setelah membaca pesan-pesan yang dikirim oleh kedua orang tua saya, sayapun berusaha untuk tetap kuat dan sabar menjalani kehidupan di Korea Selatan.

Setelah kejadian tersebut saya menyadari bahwa kasih sayang orang tua tidak akan pernah berkurang sejauh apapun anak-anaknya hidup. Dan buat saya, menelpon sambil menangis tidak boleh terulang, cukuplah saat itu adalah yang pertama dan terakhir kali. Karena saya hanya menambah beban pikiran orang tua kalau saya melakukannya lagi. Sejak saat itu saya tidak pernah mengeluh lagi ketika menelpon orang tua.
Full team 28 Agustus 2010
Insya Allah saya harus sabar dan mampu menyelesaikan apa yang sudah saya mulai di negeri ginseng ini. Bismillah…!!!